polio

Bahaya Polio pada Anak: Penyebab, Pengobatan, dan Cara Mencegahnya

Indonesia pernah dinyatakan bebas polio pada tahun 2014, sebuah pencapaian besar setelah bertahun-tahun perjuangan imunisasi massal. Tapi kabar mengejutkan datang di tahun 2022, ketika ditemukan kasus polio pada seorang anak berusia tujuh tahun di Pidie, Aceh, yang mengalami pengecilan otot di paha dan betisnya akibat kelumpuhan. Beberapa tahun setelahnya, kasus serupa kembali muncul di sejumlah wilayah lain di Indonesia. Ini jadi pengingat keras bahwa polio bukan penyakit masa lalu yang bisa dilupakan begitu saja, melainkan ancaman yang bisa kembali muncul kapan saja kalau kewaspadaan kita mengendur.

Yuk, kita bahas lebih dalam soal polio, kenapa penyakit ini begitu berbahaya, dan bagaimana cara melindungi anak dari risikonya.

Apa Itu Polio?

Polio, atau poliomielitis, adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus polio yang menyerang sistem saraf. Manusia adalah satu-satunya inang alami virus ini, artinya penyakit ini hanya menular dari manusia ke manusia lain, tidak lewat hewan atau sumber lain. Virus polio pertama kali menginfeksi mukosa tenggorokan dan usus, lalu bisa menyebar ke kelenjar getah bening, aliran darah, dan pada kasus tertentu berlanjut ke sistem saraf pusat lewat serabut saraf.

Bagaimana Cara Penularan Polio?

Polio menular terutama lewat rute fekal-oral, yaitu ketika virus dari feses orang yang terinfeksi masuk ke mulut orang lain, biasanya lewat air atau makanan yang terkontaminasi, atau lewat tangan yang tidak dicuci bersih setelah kontak dengan feses. Penularan ini paling mudah terjadi di lingkungan dengan sanitasi yang buruk dan akses air bersih yang terbatas, meski virus polio juga bisa menyebar lewat percikan pernapasan dalam kondisi tertentu.

Kenapa Polio Begitu Berbahaya?

Sebagian besar orang yang terinfeksi virus polio, sekitar 90 sampai 95 persen, sebenarnya tidak menunjukkan gejala sama sekali atau hanya mengalami gejala ringan seperti demam, lemas, sakit kepala, mual, dan gangguan pencernaan, mirip flu biasa. Inilah yang membuat polio sangat berbahaya, karena penderita tanpa gejala tetap bisa menularkan virus ke orang lain tanpa disadari.

Pada sekitar satu persen kasus, virus berhasil menyebar sampai ke sistem saraf pusat dan menyerang sel-sel saraf motorik, menyebabkan kelumpuhan yang bersifat permanen dan menetap seumur hidup penderita. Berdasarkan penelitian epidemiologi, setiap ditemukan satu kasus polio dengan kelumpuhan, diperkirakan ada sekitar dua ratus orang lain di sekitarnya yang sudah terinfeksi dengan gejala yang jauh lebih ringan atau bahkan tanpa gejala, menunjukkan betapa luasnya potensi penyebaran virus ini di balik satu kasus yang terlihat.

Siapa yang Paling Berisiko?

Anak-anak di bawah usia lima tahun adalah kelompok yang paling rentan mengalami kelumpuhan akibat polio, terutama yang belum mendapat imunisasi lengkap. Anak yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi buruk, akses air bersih terbatas, atau cakupan imunisasi yang rendah di komunitasnya memiliki risiko lebih tinggi terpapar virus ini.

Kenapa Polio Bisa Kembali Muncul di Indonesia?

Kasus polio yang muncul kembali di Indonesia, termasuk di Aceh pada 2022 dan beberapa wilayah lain seperti Jawa Timur dan Papua di tahun-tahun berikutnya, banyak dikaitkan dengan menurunnya cakupan imunisasi polio secara signifikan, terutama sejak masa pandemi. Ratusan kabupaten dan kota di puluhan provinsi di Indonesia tercatat memiliki cakupan imunisasi polio yang rendah, menciptakan celah bagi virus untuk kembali bersirkulasi di tengah masyarakat yang sebagian besar belum terlindungi.

Selama virus polio belum benar-benar dieradikasi di seluruh dunia, setiap negara, termasuk yang sudah lama dinyatakan bebas polio, tetap berisiko mengalami kemunculan kembali kasus ini, terutama kalau cakupan imunisasinya tidak dijaga tetap tinggi dan merata.

Bagaimana Pengobatan Polio?

Ini bagian yang penting dipahami setiap orang tua: sampai saat ini tidak ada obat yang bisa menyembuhkan infeksi polio secara langsung. Penanganan yang bisa diberikan hanya bersifat suportif, seperti pereda nyeri, dukungan pernapasan pada kasus yang parah, serta terapi fisik untuk membantu memaksimalkan fungsi otot yang masih tersisa setelah kelumpuhan terjadi. Begitu kelumpuhan akibat polio terjadi, umumnya kondisi ini bersifat permanen dan tidak bisa dipulihkan sepenuhnya, betapa pun optimalnya penanganan medis yang diberikan.

Fakta inilah yang menjadikan pencegahan sebagai satu-satunya senjata paling efektif melawan polio, karena begitu kelumpuhan terjadi, tidak ada cara untuk membalikkan kerusakan yang sudah terjadi pada sistem saraf anak.

Cara Mencegah Polio pada Anak

Lengkapi imunisasi polio sesuai jadwal

Vaksin polio diberikan dalam beberapa dosis sejak bayi baru lahir, dilanjutkan pada usia dua, tiga, dan empat bulan, dengan booster di usia 18 bulan. Pastikan semua dosis ini diberikan tepat waktu tanpa ditunda-tunda, karena perlindungan optimal baru tercapai setelah seluruh rangkaian dosis lengkap diberikan.

Jangan percaya mitos soal bahaya vaksin polio

Anggapan bahwa vaksin polio bisa menyebabkan kecacatan adalah mitos yang tidak berdasar secara medis. Justru sebaliknya, vaksinasi adalah cara paling efektif untuk mencegah kelumpuhan akibat infeksi virus polio yang sesungguhnya.

Jaga kebersihan dan sanitasi

Pastikan akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak di rumah, biasakan mencuci tangan dengan sabun terutama setelah dari toilet dan sebelum makan, serta pastikan makanan dan minuman yang dikonsumsi keluarga bersih dan matang sempurna.

Ikuti program imunisasi tambahan dari pemerintah

Saat terjadi kejadian luar biasa atau upaya penguatan cakupan imunisasi di suatu daerah, pemerintah biasanya mengadakan program imunisasi tambahan atau sub pekan imunisasi nasional. Pastikan anak ikut serta dalam program ini meski sebelumnya sudah mendapat imunisasi rutin, karena dosis tambahan membantu memperkuat kekebalan komunitas secara keseluruhan.

Dukung cakupan imunisasi yang merata di lingkungan sekitar

Karena polio menyebar lewat penularan antar manusia, perlindungan individu anak juga bergantung pada seberapa tinggi cakupan imunisasi di komunitas sekitarnya. Dorong keluarga dan tetangga untuk turut melengkapi imunisasi anak-anaknya demi menciptakan kekebalan kelompok yang lebih kuat.

Penutup

Polio memang jarang menunjukkan gejala berat pada kebanyakan kasus, namun risiko kelumpuhan permanen yang bisa ditimbulkannya menjadikan penyakit ini tetap harus diwaspadai serius, apalagi belum ada obat yang bisa menyembuhkannya begitu kelumpuhan terjadi. Dengan melengkapi imunisasi sesuai jadwal, menjaga sanitasi, dan mendukung cakupan vaksinasi yang merata di lingkungan sekitar, orang tua punya peran besar dalam memastikan generasi mendatang terbebas dari ancaman kelumpuhan akibat polio yang sebenarnya sepenuhnya bisa dicegah.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *