diare pada anak
|

Diare pada Anak: Kenali Tanda Dehidrasi Sebelum Terlambat

Diare mungkin terdengar seperti keluhan yang sepele, sesuatu yang hampir pasti pernah dialami setiap anak dan biasanya sembuh sendiri dalam beberapa hari. Tapi tahukah Bunda, diare sebenarnya adalah penyebab kematian nomor satu pada anak usia satu sampai lima tahun di Indonesia, dan penyebab kematian nomor dua pada bayi di bawah satu tahun? Bukan diarenya sendiri yang berbahaya, melainkan dehidrasi yang menyertainya kalau tidak ditangani dengan tepat.

Kabar baiknya, dehidrasi akibat diare sebenarnya bisa dicegah dan diatasi dengan cara yang sederhana, murah, dan bisa dilakukan sendiri di rumah. Yuk, kita bahas lebih dalam supaya Bunda tahu persis apa yang harus dilakukan.

Kenapa Dehidrasi Begitu Berbahaya bagi Anak?

Tubuh bayi dan anak kecil memiliki proporsi cairan yang jauh lebih tinggi dibanding orang dewasa, sekitar 70 sampai 80 persen dari berat badan pada bayi, dibanding sekitar 60 persen pada anak yang lebih besar. Ini artinya, kehilangan cairan dalam jumlah yang relatif kecil saja sudah bisa berdampak signifikan pada kondisi kesehatan bayi, jauh lebih cepat dibanding pada orang dewasa.

Diare menyebabkan tubuh kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Kalau cairan yang hilang ini tidak segera digantikan, anak bisa jatuh ke kondisi dehidrasi yang semakin memburuk, dan pada kasus yang parah bisa menyebabkan gagal ginjal, gangguan irama jantung, bahkan kematian.

Penyebab Diare pada Anak

Sebagian besar diare pada anak disebabkan oleh infeksi virus, terutama rotavirus, yang sangat mudah menyebar terutama di lingkungan dengan sanitasi terbatas atau saat anak mulai bersosialisasi di lingkungan seperti daycare atau sekolah. Selain infeksi virus, diare juga bisa disebabkan oleh infeksi bakteri, parasit, intoleransi makanan tertentu, atau efek samping dari konsumsi antibiotik.

Kenali Tanda-Tanda Dehidrasi pada Anak

Menurut klasifikasi World Health Organization, dehidrasi pada anak dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan sampai sedang, dan dehidrasi berat. Mengenali tanda-tandanya sejak dini sangat penting supaya penanganan bisa dilakukan sebelum kondisinya memburuk.

Tanda dehidrasi ringan hingga sedang meliputi anak tampak lebih rewel atau gelisah dari biasanya, mulut dan bibir yang terlihat kering, mata yang tampak sedikit cekung, air mata yang berkurang saat menangis, serta buang air kecil yang lebih jarang dari biasanya.

Tanda dehidrasi berat yang membutuhkan penanganan medis segera meliputi anak tampak sangat lemas atau justru sulit dibangunkan, mata yang tampak sangat cekung, kulit yang kalau dicubit lembut di area perut tidak segera kembali ke bentuk semula, tidak buang air kecil sama sekali dalam beberapa jam, tangan dan kaki yang terasa dingin, serta napas yang menjadi lebih cepat dari biasanya.

Cara Melakukan Rehidrasi di Rumah

Gunakan larutan oralit

Oralit adalah larutan rehidrasi oral yang mengandung kombinasi elektrolit dan sedikit karbohidrat dalam proporsi yang tepat untuk membantu tubuh menyerap cairan secara optimal. Larutkan sesuai petunjuk kemasan, biasanya satu sachet dengan sekitar 200 mililiter air, aduk sampai benar-benar larut sebelum diberikan pada anak.

Berikan sedikit demi sedikit terutama kalau anak muntah

Kalau anak juga mengalami muntah, berikan cairan dalam jumlah sangat kecil terlebih dahulu, misalnya satu sendok teh setiap lima sampai sepuluh menit, lalu tingkatkan secara bertahap kalau anak bisa menelannya tanpa muntah kembali.

Tetap berikan ASI untuk bayi yang masih menyusu

ASI mengandung cairan dan elektrolit yang dibutuhkan bayi, dan tetap menjadi pengobatan terbaik untuk membantu rehidrasi pada bayi yang masih menyusu, bahkan di tengah kondisi diare sekalipun.

Hindari minuman yang tidak tepat untuk rehidrasi

Jangan menggunakan minuman berenergi, jus yang tidak diencerkan, atau air soda sebagai pengganti oralit, karena kandungan gulanya terlalu tinggi dan kandungan elektrolitnya terlalu rendah, yang justru bisa memperparah diare pada beberapa kasus.

Lanjutkan pemberian makan seperti biasa

Berbeda dengan anggapan lama yang menyarankan puasa saat diare, anak tetap dianjurkan mendapat makanan seperti biasa begitu dehidrasinya mulai teratasi, karena asupan nutrisi tetap penting untuk mendukung proses pemulihan.

Cara Menilai Turgor Kulit sebagai Tanda Dehidrasi

Salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan orang tua di rumah adalah menilai turgor atau elastisitas kulit anak. Cubit lembut kulit di area perut, lalu lepaskan. Pada anak yang cukup cairan, kulit akan segera kembali ke bentuk semula. Kalau kulit kembali dengan lambat atau bahkan tetap terlihat “terlipat” untuk beberapa saat, ini bisa jadi tanda dehidrasi yang perlu diwaspadai.

Kapan Harus Segera ke Fasilitas Kesehatan?

Segera bawa anak ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat kalau muncul tanda dehidrasi berat seperti disebutkan di atas, diare disertai darah dalam feses, muntah yang terus-menerus sehingga cairan sulit masuk sama sekali, demam tinggi yang menyertai diare, diare yang berlangsung lebih dari beberapa hari tanpa perbaikan, atau anak menolak minum sama sekali. Jangan menunggu sampai kondisi anak benar-benar memburuk, karena semakin cepat penanganan dilakukan, semakin besar peluang pemulihan yang optimal.

Mitos soal Diare yang Perlu Diluruskan

Banyak orang tua masih percaya bahwa anak dengan diare harus dipuasakan atau dibatasi makannya. Padahal, rekomendasi medis terkini justru menyarankan anak tetap makan seperti biasa begitu kondisinya memungkinkan, karena nutrisi yang cukup mendukung pemulihan usus lebih cepat. Mitos lain adalah anggapan bahwa pemberian antibiotik selalu diperlukan untuk mengatasi diare, padahal sebagian besar diare pada anak disebabkan virus yang tidak responsif terhadap antibiotik, dan penggunaan antibiotik tanpa indikasi yang tepat justru berisiko memperparah kondisi.

Cara Mencegah Diare pada Anak

Biasakan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah dari toilet, pastikan makanan dan air minum yang dikonsumsi bersih dan matang sempurna, serta lengkapi imunisasi rotavirus sesuai jadwal yang dianjurkan, karena vaksin ini terbukti membantu mengurangi risiko diare berat akibat infeksi rotavirus pada bayi.

Penutup

Diare pada anak memang sering dianggap keluhan ringan, tapi dehidrasi yang menyertainya bisa menjadi kondisi yang serius kalau tidak segera ditangani. Dengan mengenali tanda-tanda dehidrasi sejak dini dan melakukan rehidrasi yang tepat menggunakan oralit di rumah, sebagian besar kasus diare pada anak bisa ditangani dengan baik tanpa komplikasi. Yang terpenting, jangan ragu segera mencari pertolongan medis kalau muncul tanda-tanda dehidrasi berat, karena kecepatan penanganan sangat menentukan keselamatan anak.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *