tantrum

Survival Guide: Menghadapi Anak Tantrum di Tempat Umum (Saat Dunia Serasa Mau Kiamat)

Pernah tidak, Anda sedang belanja bulanan dengan tenang di supermarket, tiba-tiba anak Anda yang berusia dua tahun merebahkan diri di lantai? Bukan cuma merebahkan diri, tapi menjerit melengking sampai semua orang menoleh. Wajahnya merah padam, kakinya menendang-nendang udara, dan tangan Anda gemetar karena malu dilihat ibu-ibu lain yang kebetulan lewat.

Selamat datang di “usia dua tahun yang ajaib”.

Banyak orang tua menyebut fase ini sebagai terrible two. Tapi sejujurnya, saya lebih suka menyebutnya “fase transisi emosi”. Anak kita sebenarnya sedang belajar kalau mereka itu individu yang punya keinginan sendiri, tapi sayangnya, kemampuan bahasa mereka belum cukup untuk mengungkapkan keinginan itu. Hasilnya? Ledakan emosi alias tantrum.

Menghadapi tantrum di rumah saja sudah menguras tenaga, apalagi kalau terjadi di depan umum. Rasanya seperti sedang dipantau oleh ribuan mata yang menghakimi. “Anak itu kenapa sih?”, “Ibunya nggak bisa didik ya?”, atau yang paling menyakitkan, “Cuma gitu saja nggak bisa ditenangin.”

Tenang, Anda tidak sendirian. Saya pun pernah di posisi itu, sampai rasanya ingin pura-pura jadi manekin saja biar tidak terlihat orang. Berikut adalah panduan bertahan hidup yang saya rangkum dari pengalaman pribadi dan obrolan dengan beberapa psikolog anak.

1. Tarik Napas, Anda Bukan Ibu yang Gagal

Hal pertama yang harus dilakukan saat anak mulai “konser” di depan umum adalah mengendalikan diri sendiri. Saya tahu, ini sulit sekali. Refleks pertama kita biasanya adalah panik, malu, dan ingin segera membungkam anak agar orang lain tidak terganggu.

Tapi dengar, saat Anda panik, anak justru akan merasa lebih tidak aman. Anak yang tantrum itu ibarat badai yang sedang mengamuk di dalam otaknya. Mereka butuh “jangkar”, dan jangkar itu adalah Anda. Jika Anda ikut terbawa emosi—entah marah atau malu—badainya akan semakin besar. Tarik napas dalam-dalam, ingat bahwa ini bukan tentang siapa yang sedang melihat, tapi tentang anak Anda yang sedang kesulitan mengelola perasaan.

2. Jangan Bernegosiasi dengan Teroris (Ups, Maksudnya dengan Si Kecil)

Pernah tidak Anda mencoba menyuap anak saat dia menangis di tempat umum? “Oke, oke, berhenti nangis ya, nanti Mama belikan cokelat.”

Saya pernah melakukan ini sekali, dan itu adalah kesalahan terbesar. Anak usia dua tahun itu sangat cerdas. Mereka dengan cepat belajar bahwa, “Oh, kalau aku teriak dan guling-guling di lantai, aku bisa dapat apa yang aku mau.”

Jangan berikan apa yang mereka tangisi hanya untuk menghentikan tangisannya. Itu hanya akan menjadi senjata makan tuan di masa depan. Tetaplah pada pendirian Anda. Jika dia tantrum karena tidak boleh beli mainan tambahan, jangan berikan mainan itu hanya karena dia menangis.

3. Pindahkan ke Area yang Lebih Sepi

Kalau jeritannya sudah mulai membuat seisi mal gempar, jangan dipaksakan tetap di sana. Segera bawa anak ke tempat yang lebih tenang, misalnya pojok toko, kursi tunggu, atau bahkan ke dalam mobil.

Bukan untuk mengurung, tapi untuk mengurangi stimulasi. Di depan umum, ada banyak suara, lampu, dan orang yang membuat anak semakin bingung. Di tempat yang lebih sepi, dia akan lebih mudah tenang. Saat sudah di tempat sepi, tetaplah berada di sampingnya. Anda tidak perlu bicara banyak. Cukup katakan dengan suara lembut, “Mama tahu kamu marah karena nggak boleh beli itu. Mama ada di sini sampai kamu tenang.”

4. Pelukan “Tekanan Dalam”

Kadang, saat tantrum, anak butuh bantuan fisik untuk menenangkan sistem sarafnya. Saya sering menggunakan teknik pelukan tekanan dalam (deep pressure). Saat anak sedang mengamuk, saya akan memeluknya dari belakang dengan cukup erat (bukan kasar ya).

Sentuhan fisik yang konstan dan aman sering kali bisa menurunkan detak jantung anak dan menghentikan tangisannya lebih cepat daripada seribu kalimat bujukan. Jika dia sedang sangat agresif dan menolak dipeluk, cukup duduk di dekatnya tanpa menyentuh, tapi tunjukkan bahwa Anda tidak akan pergi ke mana-mana.

5. Abaikan Tatapan Orang Lain

Ini bagian paling berat. Kita sering merasa semua orang sedang menghakimi kita. Tapi tahukah Anda? Kebanyakan orang yang melihat itu justru merasa kasihan pada Anda, atau mereka mungkin ibu/ayah yang pernah mengalami hal yang sama.

Kalau ada yang menatap sinis, anggap saja mereka sedang melihat tontonan gratis yang tidak menarik. Jangan biarkan opini orang asing di supermarket memengaruhi cara Anda mendidik anak. Anda tahu anak Anda, dan Anda tahu Anda sedang berusaha melakukan yang terbaik.

6. Setelah Badai Berlalu

Begitu dia tenang, jangan langsung menceramahinya. Anak usia dua tahun belum bisa diajak logika saat mereka baru saja selesai menangis. Berikan pelukan, usap rambutnya, dan ajak dia melanjutkan aktivitas. Setelah sampai di rumah atau dalam suasana yang jauh lebih santai, baru kita bisa bahas sedikit. Misalnya, “Tadi di toko kamu marah banget ya? Lain kali, kalau mau sesuatu, bilang pakai kata-kata saja, ya.”

Penutup: Ini Hanyalah Fase

Tantrum adalah bukti bahwa anak Anda sedang tumbuh. Mereka sedang belajar menjadi manusia yang punya kehendak. Memang melelahkan, memang membuat malu, tapi ingatlah bahwa ini tidak akan berlangsung selamanya.

Besok-besok, saat anak Anda sudah remaja, Anda mungkin akan menertawakan momen ini sambil minum kopi. Jadi, untuk hari ini, maafkan diri Anda sendiri. Anda sudah melakukan yang terbaik. Peluk anak Anda, tarik napas, dan teruslah melangkah. Anda adalah orang tua yang luar biasa, terlepas dari berapa kali anak Anda “mengamuk” di depan umum.

Tetap semangat, Moms! Badai pasti berlalu.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *