GTM pada Batita Kenapa Anak Tiba-Tiba Susah Makan dan Cara Menghadapinya
Kalau si kecil yang dulu doyan makan apa saja tiba-tiba jadi rewel setiap kali disuapi, mulutnya rapat seperti gembok, atau makanan yang sudah masuk malah dilepeh lagi, Bunda tidak sendirian. Fase ini punya nama sendiri di kalangan orang tua Indonesia: GTM, singkatan dari Gerakan Tutup Mulut. Hampir semua orang tua batita pernah mengalaminya, dan meski bikin pusing tujuh keliling, GTM sebenarnya bagian normal dari tumbuh kembang anak.
Masalahnya, banyak orang tua langsung panik dan mengira anaknya sakit atau kekurangan gizi parah. Padahal, sebelum buru-buru menyalahkan diri sendiri atau si kecil, ada baiknya kita pahami dulu apa yang sebenarnya terjadi di balik perilaku ini.
Apa Itu GTM?
GTM adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan kondisi anak menolak makan, baik dengan cara menutup mulut rapat-rapat, memalingkan wajah, mendorong sendok, memuntahkan makanan, atau bahkan menangis setiap kali waktu makan tiba. Fase ini paling sering muncul pada rentang usia satu sampai tiga tahun, meski bisa juga terjadi lebih awal saat masa MPASI.
Yang perlu Bunda ingat, GTM bukan penyakit. Ini lebih tepat disebut sebagai perilaku, dan seperti perilaku lain pada anak, biasanya ada pemicunya. Tugas kita sebagai orang tua adalah mencari tahu pemicu itu, bukan memaksa anak untuk tetap makan dengan cara apa pun.

Kenapa Batita Bisa Mengalami GTM?
1. Fase mencari kemandirian
Di usia batita, anak mulai sadar bahwa dirinya punya kehendak sendiri. Menolak makan adalah salah satu cara paling mudah bagi mereka untuk menunjukkan kontrol atas tubuhnya sendiri. Ini sebenarnya tanda perkembangan yang baik, meski terasa menyebalkan bagi orang tua.
2. Bosan dengan rasa dan tekstur yang itu-itu saja
Coba bayangkan kalau Bunda disuguhi menu yang sama setiap hari selama berminggu-minggu. Anak juga begitu. Kalau menu makan monoton, baik dari segi rasa, warna, maupun tekstur, lama-lama mereka akan kehilangan minat untuk makan.
3. Sedang tidak enak badan atau tumbuh gigi
Gusi yang gatal saat gigi baru tumbuh, tenggorokan yang sedikit sakit, atau badan yang kurang fit bisa membuat anak enggan mengunyah. Biasanya GTM jenis ini bersifat sementara dan akan hilang begitu kondisi fisiknya membaik.
4. Terlalu banyak camilan atau susu
Perut anak batita kecil, jadi kalau sudah kenyang dari camilan manis atau susu dalam jumlah banyak menjelang jam makan, wajar saja kalau mereka menolak makanan utama. Ini bukan GTM dalam arti sesungguhnya, melainkan sinyal bahwa jadwal makan perlu diatur ulang.
5. Suasana makan yang menegangkan
Anak sangat peka terhadap emosi orang di sekitarnya. Kalau jam makan selalu diwarnai bujukan panik, ancaman, atau paksaan, anak akan mengasosiasikan waktu makan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Lama-lama, begitu melihat kursi makan atau sendok, mereka sudah menutup mulut duluan sebelum disuapi.
6. Distraksi berlebihan saat makan
Sering makan sambil nonton gadget atau berkeliling rumah memang bisa membuat anak “mau” makan dalam jumlah banyak. Tapi cara ini justru mengajarkan anak untuk tidak fokus pada rasa lapar dan kenyangnya sendiri, yang pada akhirnya bisa memperparah masalah makan di kemudian hari.
Cara Menghadapi GTM Tanpa Drama
Perbaiki jadwal makan dan camilan
Beri jarak sekitar dua sampai tiga jam antara camilan dan makan besar. Hindari memberi susu dalam jumlah besar tepat sebelum jam makan supaya perut anak benar-benar siap menerima makanan utama.
Libatkan anak dalam proses makan
Biarkan anak makan sendiri meski berantakan, atau ajak mereka memilih sayur di pasar dan membantu mencuci bahan makanan. Rasa terlibat ini bisa membangkitkan rasa ingin tahu mereka terhadap makanan yang akan disantap.
Kreasikan tampilan dan variasi menu
Tidak perlu jago menghias makanan seperti karakter kartun. Cukup variasikan warna, bentuk potongan, dan cara penyajian. Kadang perubahan kecil seperti mengganti piring atau memotong sayur jadi bentuk stik saja sudah cukup menarik perhatian anak.
Batasi waktu makan sekitar 20-30 menit
Kalau anak menolak makan setelah waktu ini, sudahi saja tanpa drama. Jangan mengejar-ngejar dengan sendok atau memaksa suapan tambahan. Angkat makanan dengan tenang dan coba lagi di jam makan berikutnya.
Hindari tekanan dan pujian berlebihan
Baik memaksa maupun terlalu memuji setiap suapan sebenarnya sama-sama membuat makan terasa seperti “tugas” bagi anak. Coba bersikap netral saja. Sajikan makanan, beri kesempatan, dan biarkan anak yang memutuskan seberapa banyak yang ingin dimakan.
Jadi contoh yang baik
Anak belajar dari apa yang dilihat. Kalau Bunda dan Ayah makan dengan tenang dan menikmati beragam jenis makanan di meja yang sama, anak akan lebih mudah tertarik untuk mencoba.
Ciptakan suasana makan yang nyaman
Matikan televisi, simpan gadget, dan usahakan makan bersama sebagai keluarga sesering mungkin. Suasana yang santai membuat anak lebih rileks dan terbuka terhadap makanan yang disajikan.
Kapan Perlu Waspada?
GTM umumnya bersifat sementara dan tidak berbahaya selama berat badan anak masih naik sesuai grafik pertumbuhan dan energinya tetap aktif seperti biasa. Namun, kalau penolakan makan berlangsung lebih dari beberapa minggu, disertai penurunan berat badan yang nyata, anak terlihat lemas, atau muncul tanda dehidrasi, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter anak. Tenaga medis bisa membantu memastikan tidak ada masalah kesehatan lain yang mendasari, sekaligus memberikan panduan yang lebih spesifik sesuai kondisi si kecil.
Kesimpulan
GTM memang menguji kesabaran, tapi ingatlah bahwa fase ini biasanya berlalu dengan sendirinya. Kuncinya ada pada konsistensi, kesabaran, dan menciptakan hubungan yang sehat antara anak dan makanan sejak dini. Daripada fokus pada berapa banyak yang masuk ke perutnya hari ini, coba alihkan perhatian pada membangun kebiasaan makan yang menyenangkan untuk jangka panjang. Percayalah, dengan pendekatan yang tepat, fase menutup mulut ini akan berlalu, dan si kecil akan kembali menikmati waktu makannya.