Jadwal dan Porsi Makan MPASI Sesuai Usia, Biar Tidak Kurang atau Berlebihan
Selain soal menu apa yang harus dimasak, satu hal yang sering bikin bingung orang tua baru adalah soal jadwal dan porsi MPASI. Berapa kali sehari sebaiknya bayi makan? Berapa banyak porsi yang pas untuk usianya? Terlalu sedikit khawatir kurang gizi, terlalu banyak juga khawatir memberatkan pencernaannya yang masih berkembang.
Yuk, kita bahas panduan jadwal dan porsi MPASI sesuai usia, berdasarkan rekomendasi WHO dan IDAI, supaya Bunda punya gambaran yang lebih jelas dalam menyusun jadwal makan si kecil setiap harinya.
Kenapa Jadwal dan Porsi Perlu Diperhatikan?
Pemberian MPASI yang ideal menurut WHO harus memenuhi empat prinsip dasar, yaitu tepat waktu, adekuat atau memadai dari sisi jumlah dan kualitas gizi, aman dari sisi kebersihan penyiapan dan penyimpanan, serta diberikan dengan cara yang responsif terhadap sinyal lapar dan kenyang anak. Jadwal dan porsi yang tidak sesuai usia bisa berdampak pada risiko kekurangan gizi kalau terlalu sedikit, atau memberatkan sistem pencernaan bayi kalau porsinya terlalu banyak untuk kapasitas lambungnya yang masih kecil.
Jadwal dan Porsi MPASI Usia 6-8 Bulan

Di usia ini, bayi baru memulai perjalanan MPASI-nya, sehingga porsi dan frekuensi makan masih tergolong kecil. Frekuensi makan yang dianjurkan adalah dua sampai tiga kali sehari, dengan porsi awal sekitar dua sampai tiga sendok makan per kali makan, yang bisa ditingkatkan secara bertahap sesuai respons dan kemampuan bayi menerima makanan.
Menjelang usia delapan bulan, porsi bisa ditingkatkan hingga sekitar 125 mililiter atau setara setengah mangkuk kecil per kali makan. Selain makanan utama, ASI atau susu formula tetap menjadi sumber nutrisi utama di rentang usia ini, dengan MPASI berperan sebagai pelengkap yang porsinya masih jauh lebih sedikit dibanding asupan ASI.
Jadwal dan Porsi MPASI Usia 9-11 Bulan

Seiring bertambahnya usia dan kapasitas lambung yang semakin besar, frekuensi makan meningkat menjadi tiga sampai empat kali sehari, dengan porsi sekitar 125 mililiter atau setara setengah sampai tiga per empat mangkuk berukuran 250 mililiter per kali makan. Di usia ini, Bunda juga sudah bisa mulai menambahkan camilan bergizi di antara waktu makan utama, seperti potongan buah lembut atau biskuit bayi, sebanyak satu sampai dua kali sehari.
Tekstur makanan di usia ini juga sudah mulai lebih kasar dibanding bubur halus sebelumnya, sehingga porsi yang diberikan terasa lebih mengenyangkan meski dari sisi volume terlihat serupa dengan usia sebelumnya.
Jadwal dan Porsi MPASI Usia 12-23 Bulan

Menjelang usia satu tahun, frekuensi makan utama bisa disesuaikan menjadi tiga sampai empat kali sehari, dengan porsi meningkat menjadi sekitar tiga per empat sampai satu mangkuk penuh berukuran 250 mililiter per kali makan. Camilan bergizi tetap diberikan satu sampai dua kali sehari di sela waktu makan utama.
Di rentang usia ini, anak mulai bisa mengikuti pola makan yang lebih mendekati jadwal makan keluarga, meski porsinya tentu masih disesuaikan dengan kapasitas lambungnya yang lebih kecil dibanding orang dewasa.
Bagaimana dengan Porsi ASI di Setiap Tahapan?
Penting diingat, ASI atau susu formula tetap menjadi bagian penting dari asupan nutrisi anak sepanjang periode MPASI, bukan sepenuhnya digantikan oleh makanan padat. Di usia 6-8 bulan, ASI masih menjadi sumber nutrisi utama dengan MPASI sebagai pelengkap. Semakin bertambah usia, proporsi MPASI dalam total asupan harian semakin meningkat, sementara ASI tetap dianjurkan diberikan sampai usia dua tahun atau lebih sebagai pelengkap gizi dan sumber kenyamanan emosional bagi anak.
Tanda Porsi Sudah Cukup atau Kurang
Selain berpatokan pada angka, ada baiknya juga memperhatikan sinyal dari bayi sendiri. Tanda porsi sudah cukup biasanya ditunjukkan lewat bayi yang memalingkan wajah, menutup mulut, atau mendorong sendok menjauh. Sebaliknya, tanda bayi masih ingin makan lebih banyak bisa terlihat dari gerakan membuka mulut lebih lebar, condong ke arah sendok, atau menunjukkan rewel ringan yang mereda setelah diberi tambahan makan.
Jangan memaksa bayi menghabiskan porsi yang sudah disiapkan kalau mereka sudah menunjukkan tanda kenyang, karena ini bisa mengganggu kemampuan alami mereka mengenali sinyal lapar dan kenyang tubuhnya sendiri.
Kesalahan Umum Terkait Jadwal dan Porsi MPASI
Porsi terlalu kecil dalam waktu lama
Beberapa orang tua terlalu berhati-hati sehingga porsi MPASI tidak dinaikkan sesuai usia, padahal kebutuhan energi dan nutrisi anak terus meningkat seiring pertumbuhannya. Porsi yang terlalu kecil dalam waktu lama berisiko membuat kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi secara optimal.
Terlalu sering ngemil di luar jadwal
Camilan yang diberikan terlalu sering atau dalam porsi besar di luar jadwal yang seharusnya bisa membuat anak kenyang duluan sebelum waktu makan utama tiba, sehingga asupan gizi lengkap dari menu utama justru tidak tercapai.
Jadwal makan yang tidak konsisten
Jadwal makan yang berubah-ubah setiap hari bisa membuat anak kesulitan mengenali ritme lapar dan kenyangnya sendiri, serta menyulitkan orang tua memantau kecukupan asupan hariannya secara keseluruhan.
Terlalu fokus pada porsi, lupa kualitas gizi
Mengejar target porsi dalam mililiter atau sendok makan tanpa memperhatikan kelengkapan gizi di dalamnya, seperti kombinasi karbohidrat, protein, lemak, dan sayur, sama pentingnya dengan memenuhi jumlah porsi yang dianjurkan.
Menyusun Jadwal Makan Harian yang Praktis
Sebagai gambaran, jadwal makan harian untuk bayi usia sembilan bulan misalnya bisa disusun seperti sarapan sekitar pukul tujuh pagi, camilan buah sekitar pukul sepuluh, makan siang sekitar pukul dua belas, camilan sore sekitar pukul tiga, dan makan malam sekitar pukul enam sore, dengan sesi menyusu tetap disisipkan di antara waktu-waktu tersebut sesuai kebutuhan bayi.
Jadwal ini tentu bisa disesuaikan dengan ritme keluarga masing-masing, yang terpenting adalah konsistensi waktu makan setiap harinya supaya anak terbiasa dengan pola makan yang teratur.
Penutup
Memahami jadwal dan porsi MPASI sesuai usia membantu Bunda memastikan si kecil mendapat asupan gizi yang cukup tanpa berlebihan maupun kekurangan. Meski angka-angka ini bisa jadi patokan umum, tetap perhatikan sinyal individual dari bayi, karena setiap anak punya kebutuhan dan ritme yang sedikit berbeda satu sama lain. Dengan kombinasi panduan umum dan kepekaan terhadap kebutuhan spesifik anak, perjalanan MPASI bisa berjalan lebih lancar dan menyenangkan bagi seluruh keluarga.