vaksin bayi
|

Vaksin Wajib Bayi Baru Lahir: Hepatitis B, Polio, dan BCG, Ini Kegunaan dan Risikonya Kalau Terlewat

Beberapa jam pertama kehidupan bayi ternyata bukan cuma diisi momen mengharukan seperti inisiasi menyusu dini dan IMD (Inisiasi Menyusu Dini), tapi juga jadi waktu penting untuk memberikan perlindungan kesehatan jangka panjang lewat imunisasi. Ada tiga vaksin yang idealnya sudah diberikan sejak bayi baru lahir sampai usia satu bulan, yaitu Hepatitis B, Polio, dan BCG.

Sayangnya, tidak sedikit orang tua yang belum benar-benar paham kenapa ketiga vaksin ini begitu penting diberikan sedini mungkin, dan apa risikonya kalau sampai terlewat. Yuk, kita bahas satu per satu supaya lebih jelas.

1. Vaksin Hepatitis B (HB0)

Kapan diberikan

Vaksin Hepatitis B dosis pertama, atau biasa disebut HB0, idealnya diberikan dalam 24 jam pertama setelah bayi lahir. Untuk bayi yang lahir dari ibu dengan status HBsAg positif, vaksin ini sebaiknya diberikan lebih cepat lagi, idealnya dalam 12 jam setelah lahir, bersama dengan suntikan imunoglobulin Hepatitis B pada bagian tubuh yang berbeda.

Kegunaan

Vaksin Hepatitis B melindungi tubuh dari infeksi virus Hepatitis B, yaitu virus yang menyerang hati dan bisa menyebabkan peradangan, sirosis, bahkan kanker hati jika tidak ditangani. Vaksin ini bekerja dengan merangsang sistem kekebalan tubuh membentuk antibodi, sehingga saat suatu saat tubuh terpapar virus yang sesungguhnya, tubuh sudah siap melawannya.

Pemberian dosis pertama secepat mungkin setelah lahir sangat penting karena jika penularan Hepatitis B terjadi saat bayi, virus ini kemungkinan besar akan bertahan lama dalam tubuh dan terbawa sampai dewasa, sehingga bayi bisa mengalami Hepatitis B kronis. Ini terutama berisiko tinggi kalau ibu yang melahirkan berstatus positif Hepatitis B, karena penularan dari ibu ke bayi saat proses persalinan adalah salah satu jalur penularan yang paling sering terjadi.

Risiko kalau terlewat atau tertunda

Risiko bayi tertular Hepatitis B dari ibu yang positif terinfeksi sangat tinggi, dan semakin ditunda pemberian vaksinnya, semakin besar pula risiko infeksi yang bisa terjadi. Bayi yang terinfeksi Hepatitis B sejak dini berisiko besar mengalami infeksi kronis yang bisa berkembang menjadi kerusakan hati serius di kemudian hari. Kabar baiknya, kalau dosis pertama sempat terlewat karena alasan medis tertentu, jadwal masih bisa dilanjutkan tanpa harus mengulang dari awal, asal segera dikejar begitu kondisi bayi memungkinkan.

2. Vaksin Polio Tetes (OPV-0)

Kapan diberikan

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, vaksin polio sebaiknya diberikan segera setelah bayi lahir. Apabila bayi lahir di fasilitas kesehatan, vaksin polio bivalen atau bOPV-0 bisa diberikan saat bayi akan pulang atau pada kunjungan pertama. Setelah itu, vaksin polio dilanjutkan pada usia 2, 3, dan 4 bulan, dengan booster di usia 18 bulan.

Kegunaan

OPV mengandung virus polio hidup yang sudah dilemahkan, dan bekerja dengan mengontrol sirkulasi virus polio liar dalam tubuh lewat kekebalan yang terbentuk di mukosa usus. Vaksin ini melindungi anak dari virus polio yang menyerang sistem saraf dan bisa menyebabkan kelumpuhan permanen. Komplikasi serius akibat polio bisa berupa kelumpuhan permanen, kelainan bentuk tulang, hingga gagal napas.

Risiko kalau terlewat atau cakupannya rendah

Rendahnya cakupan vaksinasi polio dapat meningkatkan risiko penyebaran virus polio yang bisa mengakibatkan kelumpuhan permanen atau lumpuh layu pada anak yang belum mendapatkan vaksin. Indonesia sendiri pernah dinyatakan sempat mengalami temuan kasus polio kembali di beberapa daerah dengan cakupan imunisasi yang rendah, meski sebelumnya sudah dinyatakan bebas polio. Ini menunjukkan pentingnya menjaga cakupan imunisasi tetap tinggi dan merata, karena virus polio bisa kembali menyebar kalau ada celah anak-anak yang tidak terlindungi.

Perlu diketahui juga, anggapan bahwa vaksin polio bisa menyebabkan kecacatan atau kelumpuhan adalah mitos yang tidak berdasar secara medis, dan vaksinasi justru merupakan cara paling efektif untuk mencegah penyakit polio.

3. Vaksin BCG

Kapan diberikan

Vaksin BCG sebaiknya diberikan sesegera mungkin sebelum bayi berusia satu bulan. Untuk daerah dengan tingkat kasus TBC yang tinggi, kalau bayi belum sempat mendapat vaksin BCG setelah usia tiga bulan, biasanya disarankan melakukan uji tuberkulin terlebih dahulu sebelum divaksin.

Kegunaan

Vaksin BCG bekerja dengan merangsang sistem imun untuk menghasilkan antibodi yang bisa mengenali dan melawan bakteri penyebab TBC, sehingga bisa menurunkan risiko terjangkit tuberkulosis yang berat, seperti meningitis TB. Vaksin ini terutama penting diberikan sejak dini karena vaksin BCG yang diberikan pada bayi baru lahir memiliki efek proteksi yang baik terhadap penyakit TB pada anak, meski efektivitasnya cenderung berkurang seiring bertambahnya usia.

Risiko kalau terlewat

Tanpa perlindungan BCG sejak dini, bayi jadi lebih rentan terhadap infeksi TBC yang berat, termasuk TB milier atau meningitis TB yang bisa berakibat fatal, terutama pada bayi dan anak kecil yang sistem imunnya masih berkembang. Risiko ini semakin tinggi kalau bayi tinggal serumah atau sering kontak dengan orang dewasa yang mengidap TB aktif, mengingat penularan TBC terjadi lewat udara dan cukup mudah menyebar di lingkungan yang padat.

Efek Samping yang Wajar Terjadi Setelah Vaksinasi

Penting dibedakan antara risiko akibat tidak divaksin dengan efek samping ringan yang bisa muncul setelah vaksinasi. Untuk Hepatitis B dan Polio, efek samping yang umum biasanya berupa kemerahan atau nyeri ringan di area suntikan serta demam ringan yang mereda dalam satu sampai dua hari. Untuk BCG, setelah tiga sampai empat minggu, titik suntikan bisa membesar dan mengeras, lalu meninggalkan bekas luka kecil yang dikenal dengan istilah skar BCG, dan ini adalah reaksi normal, bukan tanda bahaya.

Penutup

Ketiga vaksin ini, Hepatitis B, Polio, dan BCG, sengaja diberikan sedini mungkin karena bayi baru lahir berada dalam fase paling rentan terhadap penyakit-penyakit serius yang bisa dicegah lewat imunisasi. Menunda atau melewatkan vaksinasi ini bukan cuma berisiko bagi kesehatan anak itu sendiri, tapi juga berpotensi memperbesar risiko penularan di lingkungan sekitarnya. Kalau Bunda masih ragu atau ada pertanyaan spesifik terkait kondisi anak, jangan ragu berkonsultasi langsung dengan dokter anak untuk mendapat penjelasan yang paling sesuai dengan kondisi si kecil.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *